ASAL USUL NAMA SELUMA
Ketika maharaja sakti beserta 15 pengawalnya dalam perjalanannya keliling sumatra menuju ke arah selatan sampai di kerajaan silebar yang termasuk kedalam rumpun kerajaan bangkahoeloe di sebelah selatan;mendengar berita dari masyarakat bahwa di puncak bukit campang dan bukit lesung dalam wilayah tak bertuan, terdapat sebuah danau di puncak bukit yang dibendung oleh seekor naga raksasa
Danau tersebut oleh penduduk setempat disebut tebat sekedi yang apabila diartikan secara harafia berarti “kolam siluman”. Yang setiap 30 tahun akan mendatangkan banjir bandang yang maha dahsyat pada setiap sungai di wilayang ini.
Seperti ditulis dalam catatan yang dituturkan oleh Nasroen Remok seorang mantan depati yang menggelar Depati Raja Chalifah dari desa Bungamas yaitu salah seorang pendiri desa bungamas yang ada sekarang ( meninggal tahun 1972, dalam usia 98 tahun ) dituturkan kepada Bustan A Dali pada tahun 1999, dinyatakan bahwa
“berdasarkan kisah turun temurun jang didapatkan dari para pendaholoe bahawa maharaja sakti jaitoe saorang oetoesan raja pagaroejoeng dengan 15 pengawal ja langsoeng melihat kepoen tjak boekit tjampang terseboet pada masa itu telah terdjadi soeatoe keajaiban jaitoe sang naga jang membendoeng tebat sekedi sedang menetaskan tloernja dan anak naga jang menetas terseboet langsoeng menghilang dengan beserta merta mharaja sakti berseroe”siloeman” jang dalam bahasa pendodoek asli bungaemas diseboet “seloeman” dan berarti menghilang . demikian selanjoetnya oleh toeankoe maharaja sakti menamakan daerah lembah dan goenong sepadjang bokeit barisan jang tiada terpoetoes dengan nama Daerah Seloeman . kemudian dikatakan oleh toeankoe maharaja sakti bahwa daerah “SILOEMAN” yang sesoenggoehnja nanti adalah dalam wilayah timboelnja doea ekoer anak naga jang menetas terseboet. “(tercatat tahun 1938).
Selanjutnya NASROEN REMOK menuturkan bahwa :” berdasarkan kerapatan adat puyang puyang dalam suatu musyawarah untuk mufakat yaitu puyang perpatih sakti yaitu puyang semidang bungamas, pujang rio kidap yaitu puyang semidang alas, puyang menak talang tais yaitu puyang semidang bukit kabu dan puyang puteri rubiyah yaitu puyang semidang pasema ulu alas, diputuslkan bahwa untuk menghindarkan kesalah pahaman mengenai “Siloeman” atau “ siluman “ dari pengertian “ menghilang” maka sebaknya nama tersebut digunakan dengan tanpa makna yaitu “SELUMA”.
Dituturkan pula oleh bapak Hasnul berasal dari desa pasar seluma ( masih hidup , berusia 83 tahun ) yang menuturkan kepada Bustan A Dali pada tahun 1998 dalam bahasa “serawai” menyatakan :”setelah tuanku maharaja sakti naiak ke puncak bukit campang nginak tebat sekedi serto nginak nago beteluagh nyo langsung ngatoka “Siluman” daerah ini suatu maso nantikni nyadi daerah subur makmur “.
Dari sumber dokumentasi berupa catatan miss elizabeth van hoff, seoarng peneliti dari musik centre melborne university Australia, yang melakukan penelitian pada tahun 1969 di wilayang daerah seluma, tertulis ( dalam bahasa inggris yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia ) : “dari uraian bapak kaderi yang kemungkinan didesa tebat monok kepahaiang rejang lebong beruemur 132 tahun menyatakan bahwa dareah seluma adalah daerah diantara dimana timbulnya 2 ekor anak naga yang menetas di tebat sekedi “.
Dari 3 argument tersebut di atas, saya menyimpulkan bahwa nama : “Daerah seluma” berasal dari :
1. Kata kata maharaja sakti yang menyebutkan kata “SILUMAN “ ketika melihat telur naga yng menetas dan kemudian anak naganya langsung menghilang
2. Nama “Tebet Sekedi “ yang berarti “kolam siluman”
3. Hasil musyawarah adat para puyang yang memutuskan bahwa untuk menghindarkan kesan “Siluman”atau”menghilang”maka diputuskan menjadi nama tanpa makna yaitu “SELUMA”
Tags:
DOKUMEN TANAH SERWAI
0 komentar